kamagra kopen kamagra online kamagra 100 viagra tablets australia levitra online australia cialis daily australia levitra australia kamagra 100mg cialis bijsluiter cialis kopen viagra kopen viagra online
viagra tablets australia levitra online australia viagra générique viagra pour femme cialis générique cialis en ligne levitra générique levitra prix kamagra 100 kamagra 100mg kamagra kopen kamagra online cialis bijsluiter cialis kopen viagra kopen viagra online cialis daily australia levitra australia
Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Warta & Artikel

Madrasah Ma’arif Jadi Pusat Penyebaran Aswaja di Sulbar

Madrasah Ma’arif Jadi Pusat Penyebaran Aswaja di Sulbar
Norshahril Saat (2015: 3) mengatakan, NU berdiri pada 1926 merupakan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Kebesaran NU karena pada beberapa hal, salah satunya NU mewakili Islam tradisionalis, madrasah/sekolah NU lebih akomodatif terhadap tradisi lokal, budaya, dan mistisisme.
Lebih jauh Saat mengatakan, pilihan NU untuk tetap konsisten mengusung Islam Nusantara (archipelagic Islam) sejak pendiriannya hingga sekarang merupakan langkah tepat. Konsistensi NU mengingatkan umat Islam Indonesia akan perannya dalam menjaga tradisi Islam lokal Indonesia saat negara ini menghadapi ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan pengaruh Timur Tengah lainnya.
Peneguhan keberislaman ala NU ini diperkuat kembali pada Muktamar ke-33 di Jombang beberapa waktu lalu. Melalui momentum tersebut NU menegaskan pentingnya kontribusi Islam dalam menjaga Pancasila, memelihara NKRI, merawat UUD 1945, dan memperkuat Bhinneka Tunggal Ika.
Sebagai organisasi terbesar, kini NU menghadapi banyak tantangan, yakni munculnya paham-paham keagamaan yang secara ideologis ingin menghapus 4 pilar tata negara dengan khilafah, daulah Islamiyah, dan lainnya. Ideologi transnasional ini secara massif mengampanyekan anti Pancasila, menggaet pengikut baru, dan menyerang NU yang belakangan ini menguat di daerah perkotaan.

MKNU, Penguatan Kapasitas
Serangan terhadap NU dalam satu dasawarsa terakhi makin massif dilakukan oleh pengusung ideologi transnasional. Perang terbuka sangat gamblang terlihat di medsos atau media cetak dan elektronik memperlihatkan betapa kelompok ini serius mengerdilkan NU. Serangan bukan hanya terhadap ideologi Aswaja (ahlussunnah wal jama’ah), melainkan pula pada penguasaan masjid, pesantren, kelompok pengajian.
Dalam beberapa tahun terakhir banyak masjid yang menjadi kebanggaan NU telah direbut oleh kelompok pengusung ideologi transnasional. Dengan berpura-pura menjadi jamaah yang loyal, mereka berusaha sedikit demi sedikit memperdaya pengurus masjid yang susah payah dibangun oleh tokoh NU atas dukungan masyarakat.
Oleh karena itu pada Muktamar ke-33 di Jombang, NU memutuskan beberapa keputusan strategis. Keputusan tersebut bukan hanya dalam konteks merevitalisasi lembaga tetapi juga adanya animo baru yang berwujud pada MKNU.
Sebagai salah satu keputusan strategis dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada tahun 2015 lalu, MKNU menjadi salah satu syarat bagi jamaah untuk menjadi pengurus NU sekaligus langkah baru dalam pengembangan jama’ah dan jam’iyyah. Melalui madrasah kader, para penggiat MKNU secara konsisten melakukan pembinaan dan counter attack terhadap anak bangsa yang membenci NU.
Beberapa hal embrio lahirnya MKNU. Pertama, pola pikir. MKNU merupakan peneguhan ideologi ahlussunah wal jama’ah sebagai sebuah pola pikir keislaman dan kebangsaan. Pola pikir dimaksud adalah jalan tengah (wasathiyah) antara ekstrem kiri dan ekstrem kanan, antara rasionalis (‘aql)) dan skripturalis (naql) yang bersumber Al-Quran dan Sunnah serta menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik (ijma dan qiyas).
Kedua, setia NKRI. MKNU memiliki beberapa pemikiran dan langkah yang jadi pedoman setiap anggota tidak hanya dalam konteks keislaman, tetapi juga merupakan wujud kesetiaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. MKNU meneguhkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk membendung upaya-upaya yang saat ini ingin merongrong keutuhan negara.
Ketiga, gerakan kolektif. MKNU membangun gerakan kolektif yang diikat dengan ukhuwwah atau solidaritas yang kuat (al-urwatul wutsqo) sebagai perekat gerakan yang dibangun atas dasar menguji kesamaan pandangan mengenai realitas dan apa yang harus dilakukan dan layak diperjuangkan bersama-sama akan pentingnya perjuangan.
Kegiatan-kegiatan penting MKNU adalah peningkatan kapasitas instruktur dan narasumber di tingkat pusat. Metode yang digunakan adalah penyampaian input (pengantar) oleh narasumber yang kompeten, kemudian dilanjutkan dengan pendalaman materi yang akan difasilitasi oleh instruktur yang mumpuni.
Beberapa materi yang akan disampaikan dan pokok bahasannya seperti: “Arah, Cita–cita dan Strategi Perjuangan NU 2015 -2026”, “Relasi NU terhadap Perkembangan Ideologi dan Gerakannya”, “Relasi dan Respon NU Terhadap Negara”, “Arah, Cita-cita dan Program Perjuangan NU 2015-2020”, “Strategi Pembangunan dan Pemberdayaan Ekonomi NU,” dan lainnya.
Pada akhir pembahasan pendalaman akan diambil sebuah rumusan strategi untuk penguatan dan pengembangan materi menjadi sebuah implementasi gerakan. Para kader itulah yang kemudian bertugas melaksanakan kaderisasi di tingkat PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia.

Pusat Aswaja di Polman
Beberapa catatan Ma’arif NU hingga kini MKNU telah menyelenggarakan kegiatannya di sejumlah provinsi dan kota/kabupaten. Dalam setiap penyelenggaran tersebut selalu memiliki cerita menarik untuk jadi perhatian bersama.
Sebagaimana diungkapkan KH Masduki Baidlowi, pengalamannya ketika menjalankan tugas dalam rangka MKNU selalu berbeda-beda antara satu provinsi dan provinsi lainnya, antara satu kota dan kota lainya. Provinsi Jawa Timur berbeda dengan Jawa Barat, berbeda dengan Banten, berbeda lagi dengan Polman, dan seterusnya. “Jadi selalu terdapat local genius yang patut jadi perhatian bersama,” ungkap KH Masduki.
Menariknya, menurut KH Masduki, para kader NU di beberapa kota dan kabupaten di Indonesia bergerak cukup massif. Meski berada di level lokal namun pergerakan mereka sangat progresif yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.
“Di antara sekian banyak kegiatan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) yang diselenggarakan adalah di Kabupaten Polman (Polewali Mandar). Selama tiga hari, 1-3/8/2018, kami Masduki Baidlowi dan Sulton Fatoni dari PBNU selain bertemu pengurus wilayah dan cabang, juga sengaja melakukan ziarah ke Makam Syaikh Abdurrahim Kamaluddin di Kepulauan Salama,” cerita KH Masduki Baidlowi.
Perjalanan yang ditempuh selama 1 jam menuju Makam Syaikh Abdurrahman Kamaluddin, KH Masduki Baidlowi dan KH Sulton Fatoni menyempatkan berkunjung ke SMA Ma’arif. Tak jauh dari SMA Ma’arif NU ini ada pula MTs Ma’arif NU. Madrasah dan sekolah Ma’arirf NU ini terletak di Desa Konyaman, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman.
“Ada ratusan murid belajar di sekolah dan madrasah ini. Mereka memperoleh pengajaran dan pengetahuan tentang ajaran-ajaran Aswaja dari tokoh-tokoh yang disengani. Kader-kader inilah akan terus tumbuh dengan kader-kader baru NU di Sulbar,” sambung KH Masduki.
Setelah mengunjungi SMA Ma’arif dan MTs Ma’arif di Desa Konyaman, selanjutnya KH Masduki dan KH Sulton menyempatkan berkunjung ke Desa Pambusuang, Kecamatan Palanipa, Polman. Di desa ini selain terdapat Pondok Pesantren Nahdaltul Ulum yang membawahi MI, MTs, dan MA, terdapat pula puluhan Madrasarh Ma’arif yang tersebar di berbagai tempat.
Pondok Pesantren Nahdaltul Ulum dipimpin oleh KH Muhammad Arsyad yang juga Ketua PCNU Polman, terdapat ratusan murid yang belajar. Sama dengan di Desa Konyaman, madrasah-madrasah Ma’arif NU juga cukup banyak di Desa Pambusuang. Bahkan di Pulau Salama, tempat Syaikh Abdurrahim dikubur terdapat 2 Madrasah Ma’arif NU.
Ribuan murid di Desa Konyaman dan Pambusuang adalah generasi yang memperoleh pendidikan yang tepat baik konteks keindonesiaan, kebangsaan, maupun keagamaan. Mereka akan menjadi penerus bangsa, mempertahankan Pancasila, memperjuangkan UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Akar kultur NU di Sulbar (Sulawesi Barat) terletak di Desa Pambusuang, Kecamatan Palanipa, Polman. Di desa ini dan sekitarnya kultur NU menyebar ke berbagai daerah di Sulbar,” sambung KH Masduki Baidlowi. YBI
Tag:

Related Images

  • Madrasah Ma’arif Jadi Pusat Penyebaran Aswaja di Sulbar
  • Madrasah Ma’arif Jadi Pusat Penyebaran Aswaja di Sulbar

Post Rating

Comments

There are currently no comments, be the first to post one!

Post Comment

Only registered users may post comments.
There are gold and diamonds that have to caiso replica watches be earned, and it is rolex replica uk still very interesting to say that the replica watch table that embodies the taste of men has rolex replica watches either gold or diamonds.